AktualTimes.com – Tanggal 28 Februari 2026 akan dikenang sebagai titik balik dalam sejarah militer Timur Tengah. Koalisi Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan berskala masif terhadap Iran dengan kode operasi “Epic Fury” dan “Roar of the Lion”, menandai berakhirnya era perang bayangan dan dimulainya konfrontasi militer terbuka.
Perencanaan dan Persiapan Operasi
Serangan ini bukanlah respons spontan terhadap provokasi Iran, melainkan hasil perencanaan militer yang matang selama berbulan-bulan. Intelijen AS dan Israel telah memetakan target strategis di seluruh wilayah Iran, dari fasilitas nuklir bawah tanah hingga markas komando Garda Revolusi Islam. Koordinasi antara Pentagon dan Kementerian Pertahanan Israel mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sejak Perang Teluk 1991.
Pesawat pengebom siluman B-2 Spirit dan F-35I Adir menjadi tulang punggung serangan udara. Rudal jelajah Tomahawk diluncurkan dari kapal perang di Teluk Persia, sementara drone tempur beroperasi untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran. Kombinasi ini dirancang untuk menciptakan “payung udara” yang memungkinkan gelombang serangan berikutnya mencapai target dalam negeri Iran.
Target Strategis dan Eksekusi
Operasi militer tidak membatasi diri pada fasilitas nuklir seperti serangan sebelumnya. Daftar target mencakup lebih dari seratus lokasi strategis: pangkalan udara militer, gudang senjata, pusat komunikasi, dan kompleks kediaman pemimpin tertinggi. Pendekatan ini mencerminkan perubahan doktrin dari penghambatan nuklir menjadi degradasi kemampuan militer secara komprehensif.
Serangan terhadap markas Garda Revolusi Islam di Tehran menjadi simbol keberhasilan operasi. IRGC, sebagai tulang punggung rezim Iran, mengalami kerugian personel dan peralatan yang signifikan. Namun, serangan paling kontroversial adalah pemboman di dekat kompleks pemimpin Agung Ayatollah Khamenei, yang menimbulkan spekulasi mengenai upaya pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Iran.
Korban dan Dampak Kemanusiaan
Data dari Palang Merah Iran mengungkapkan dampak mengerikan terhadap populasi sipil. Lebih dari 201 orang tewas, termasuk puluhan anak-anak di sekolah dasar di Minab. Serangan terhadap fasilitas gymnasium di Lamerd menambah daftar korban non-kombatan. Kritikus menuduh koalisi gagal memenuhi kewajiban hukum humaniter internasional untuk membedakan antara target militer dan sipil.
Pemadaman internet nasional oleh Iran mempersulit verifikasi independen jumlah korban. Namun, citra satelit menunjukkan kerusakan ekstensif pada infrastruktur sipil di beberapa kota. Pengungsian massal warga Tehran menambah krisis kemanusiaan yang berkembang pesat.
Respons Pertahanan Iran
Sistem pertahanan udara Iran, meski modernisasi bertahun-tahun, terbukti tidak mampu menghadapi serangan siluman dan rudal jelajah. S-300 yang dibeli dari Rusia dan sistem buatan domestik Bavar-373 diatasi oleh teknik elektronik perang dan serangan massal. Kegagalan ini mengekspos kerentanan infrastruktur pertahanan Iran terhadap musuh teknologi maju.
Namun, Iran berhasil melancarkan serangan balasan yang tidak terduga. Rudal balistik jarak menengah menargetkan tidak hanya Israel, tetapi juga pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Bahrain, dan UEA. Serangan ini menunjukkan kemampuan retensi Iran untuk melukai kepentingan koalisi bahkan pasca-degradasi signifikan.
Evaluasi Operasional
Dari perspektif militer murni, operasi gabungan mencapai sebagian besar tujuannya. Kemampuan ofensif Iran berkurang drastis, dan infrastruktur nuklir mengalami kerusakan serius. Namun, keberhasilan taktis tidak serta-merta berarti kemenangan strategis. Iran tetap mampu melancarkan serangan asimetris melalui proxy, dan dukungan populasi terhadap rezim mungkin justru meningkat karena efek rally-around-the-flag.







