AktualTimes.com – Hubungan antara Iran dan Israel merupakan salah satu konflik paling kompleks dan berkepanjangan di Timur Tengah modern. Berawal dari perubahan dramatis pasca-Revolusi Islam Iran 1979, kedua negara ini telah bertransformasi dari sekutu tidak resmi menjadi musuh bebuyutan yang kini terlibat dalam pertempuran militer langsung.
Akar Permusuhan Historis
Sebelum 1979, di bawah kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi, Iran menjalin hubungan rahasia dengan Israel yang dikenal sebagai “hubungan perban”. Kerjasama intelijen dan militer berjalan lancar meski tidak diakui secara diplomatik. Namun, semuanya berubah ketika Ayatollah Khomeini merebut kekuasaan dan mendirikan Republik Islam dengan ideologi anti-Zionis yang kuat.
Rezim baru Iran secara resmi menolak pengakuan Israel dan mulai mendukung kelompok-kelompok militan yang menentang eksistensi negara Yahudi tersebut. Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan militan Houthis di Yaman menjadi instrumen utama dalam strategi proxy war Teheran. Pendekatan ini memungkinkan Iran untuk melancarkan serangan terhadap kepentingan Israel tanpa terlibat dalam perang langsung.
Eskalasi Bertahap
Tahun-tahun berikutnya menyaksikan siklus kekerasan yang semakin intens. Program nuklir Iran menjadi sumber kekhawatiran utama Israel, yang melihat kemampuan senjata nuklir Teheran sebagai ancaman eksistensial. Serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir Iran di Natanz dan kematian ilmuwan nuklir Iran menjadi bagian dari perang bayangan yang berlangsung selama dekade.
Konflik proxy mencapai puncaknya ketika Hizbullah melancarkan serangan besar-besaran ke Israel Utara pada Oktober 2023. Respons militer Israel yang masif menghancurkan infrastruktur Lebanon, namun tidak berhasil melumpuhkan kemampuan tempur Hizbullah sepenuhnya. Iran terus memasok senjata canggih dan pelatihan militer kepada sekutunya di Lebanon.
Perubahan Paradigma 2026
Bulan Februari 2026 menandai perubahan fundamental dalam dinamika konflik. Serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Qatar memicu respons gabungan Amerika Serikat dan Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya. Operasi “Epic Fury” dan “Roar of the Lion” tidak lagi menargetkan fasilitas nuklir secara selektif, melainkan melancarkan serangan luas terhadap infrastruktur militer Iran termasuk markas Garda Revolusi Islam.
Pendekatan baru ini mencerminkan frustrasi Barat atas kegagalan strategi pengendalian kerusakan sebelumnya. Israel dan AS kini mengadopsi doktrin militer yang lebih agresif dengan tujuan melumpuhkan kemampuan Iran untuk melancarkan serangan balasan jangka panjang.
Dampak Regional dan Global
Konflik terbuka antara Iran dan Israel mengguncang seluruh sistem keamanan Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengancam pasokan minyak global, sementara serangan ke negara-negara Teluk memaksa Arab Saudi, UEA, dan Qatar untuk memilih sisi. Ketegangan ini berpotensi meluas menjadi konfrontasi Sunni-Syiah yang lebih luas.
Komunitas internasional terpecah dalam merespons krisis. Sementara Barat umumnya mendukung hak Israel untuk membela diri, banyak negara berkembang mengkritik apa yang mereka anggap sebagai agresi yang tidak proporsional. Tiongkok dan Rusia melihat kesempatan untuk memperluas pengaruh mereka dengan menawarkan mediasi.
Prospek Ke Depan
Masa depan konflik Iran-Israel bergantung pada beberapa variabel kunci. Kelangsungan hidap rezim Iran pasca-serangan, kemampuan militer Israel untuk mempertahankan operasi jangka panjang, dan komitmen AS untuk terlibat secara langsung akan menentukan arah peristiwa. Kemungkinan besar konflik akan berlanjut dalam bentuk perang gerilya dan serangan cyber meski fase pertempuran intensif mereda.






