banner ucapan hut ri ke 81 kabupaten oku selatan
Jawa TengahKendalTopik Terkini

Peringatan 1 Suro 2026 di Kendal: Warga Rowosari Perkokoh Persatuan Lewat Tradisi dan Kebersamaan

160
×

Peringatan 1 Suro 2026 di Kendal: Warga Rowosari Perkokoh Persatuan Lewat Tradisi dan Kebersamaan

Sebarkan artikel ini
1 suro 2026

KENDAL, Jawa Tengah – Peringatan 1 Suro 2026 atau 1 Muharram 1448 Hijriah di lingkungan RT 001 RW 010 Dusun Rowosari, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, berhasil memperkuat semangat persatuan dan kebersamaan warga. Acara yang berlangsung Senin (15/6/2026) malam di halaman Pos Ronda ini diikuti dengan antusias oleh masyarakat Paguyuban Griya Rafada I The View.

Dengan mengusung tema “Menguatkan Kembali Persatuan Antar Warga Masyarakat dalam Bingkai Keberagaman Budaya dan Agama”, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai gotong royong dan toleransi masih terpelihara dengan baik di lingkungan masyarakat modern.

Tema dan Maksud Peringatan 1 Suro 2026

Ketua Panitia, Rahmat Arifin Akbar, menjelaskan bahwa tema yang diusung merupakan ajakan bagi seluruh warga untuk terus menjaga persatuan di tengah keberagaman yang menjadi realitas kehidupan bangsa Indonesia. “Kami ingin peringatan 1 Suro ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi pengingat bahwa persaudaraan harus terus dijaga. Perbedaan budaya maupun agama tidak boleh menjadi penghalang untuk hidup berdampingan secara damai,” ujarnya.

Partisipasi Sukarela dan Semangat Berbagi

Seluruh rangkaian acara terselenggara melalui partisipasi sukarela masyarakat. Bahkan, untuk konsumsi tidak ada pungutan atau iuran yang dibebankan kepada warga. Masing-masing keluarga membawa hidangan dari rumah sebagai bentuk rasa syukur dan kebersamaan. Berbagai sajian memenuhi lokasi acara, mulai dari bubur suro, aneka jajanan pasar, rebusan sehat seperti ubi, singkong, jagung, dan kacang tanah, aneka buah-buahan, kue-kue tradisional, hingga beragam makanan rumahan lainnya.

“Partisipasi warga sangat luar biasa. Semua dilakukan dengan kesadaran sendiri. Semangat berbagi inilah yang menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan bertetangga yang harmonis,” kata Rahmat Arifin Akbar.

Pengajian dan Pesan Keagamaan

peringatan 1 suro 2026 kendal

Pengajian siraman rohani disampaikan oleh tokoh Nahdlatul Ulama Pakintelan, Kyai Raden Marsudi, yang juga menjabat sebagai Ketua Takmir Masjid Irsyadul Jami’, Gunungpati, Kota Semarang. Penceramah yang merupakan murid dari Kyai Muhammad Arif, Temanggung, itu mengajak masyarakat untuk menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum memperkuat ukhuwah dan memperbaiki kualitas diri.

“Persatuan itu harus dirawat. Jangan mudah terpecah hanya karena perbedaan pandangan atau latar belakang. Rasulullah SAW telah mengajarkan bagaimana membangun masyarakat yang kokoh dengan akhlak, kasih sayang, dan saling menghormati,” tuturnya.

Keberagaman sebagai Anugerah

Menurut Kyai Raden Marsudi, keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan anugerah yang harus dijaga bersama. “Budaya boleh berbeda, cara pandang bisa tidak sama, tetapi tujuan kita satu, yakni hidup damai, saling membantu, dan menghadirkan kemaslahatan. Jangan sampai ada kebencian yang merusak persaudaraan yang telah terjalin,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan dalam rumah tangga sebagai pondasi terciptanya masyarakat yang rukun. “Rumah tangga adalah madrasah pertama. Jika di dalam keluarga diajarkan saling menghargai dan menyelesaikan persoalan dengan musyawarah, maka anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mencintai perdamaian,” ujarnya.

Apresiasi dan Harapan dari Tokoh Masyarakat

Pembina Paguyuban Warga Griya Rafada I The View, S. Sutriyono, mengapresiasi semangat kebersamaan warga yang terus terjaga. “Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, masih ada ruang untuk berkumpul, saling mendoakan, dan berbagi. Ini menjadi modal penting dalam menjaga kerukunan lingkungan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua RT 001 RW 010 Dusun Rowosari, Desa Meteseh, Dr. (Hc). Joko Susanto, berharap nilai-nilai yang diperoleh dalam pengajian dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. “Persatuan tidak lahir begitu saja, tetapi dibangun melalui kepedulian, komunikasi yang baik, dan semangat gotong royong. Semoga kegiatan ini semakin mempererat hubungan antarsesama warga dan menjadikan lingkungan kita semakin harmonis,” katanya.

Momen Syukuran Bersama

Usai doa bersama yang dipimpin Ustad Zaenuri, warga menikmati syukuran secara lesehan. Tanpa sekat dan tanpa memandang perbedaan, mereka duduk bersama menikmati hidangan yang dibawa secara sukarela dari rumah masing-masing.

Peringatan 1 Suro di Griya Rafada I The View pun menjadi cermin bahwa di tengah keberagaman budaya dan agama, persatuan dapat terus tumbuh melalui kebiasaan sederhana: saling menghormati, berbagi rezeki, menjaga silaturahmi, dan mengutamakan kepentingan bersama demi terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun dan damai. (Wijaya)