banner ucapan hut ri ke 81 kabupaten oku selatan
MojokertoTopik Terkini

Raden Adipati Arya Kromodjoyo Adinegoro IV, Bupati Mojokerto yang Menyelamatkan Warisan Majapahit

269
×

Raden Adipati Arya Kromodjoyo Adinegoro IV, Bupati Mojokerto yang Menyelamatkan Warisan Majapahit

Sebarkan artikel ini
Raden Adipati Arya Kromodjoyo Adinegoro IV, Bupati Mojokerto yang Menyelamatkan Warisan Majapahit

Mojokerto, Jawa Timur – Di tengah gemuruh mesin uap era kolonial Hindia Belanda, seorang bangsawan Jawa menjabat bukan hanya sebagai pemegang kekuasaan administratif, melainkan sebagai penjaga memori peradaban. Raden Mashudan, yang bergelar Raden Adipati Arya Kromodjoyo Adinegoro IV, memerintah Kabupaten Mojokerto selama dua dasawarsa (1894–1916).

Namun, jejaknya tidak berhenti pada angka statistik pemerintahan. Beliau adalah arsitek di balik terbangunnya Museum Purbakala Mojokerto. Cikal bakal Museum Trowulan, yang kini menjadi rujukan studi Kerajaan Majapahit di kancah internasional.

Artikel ini menyajikan rekonstruksi perjalanan hidup sang bupati berdasarkan arsip keluarga Trah Kromodjayan Kanoman, dokumen resmi Pemerintah Kabupaten Mojokerto, serta catatan Lembaga Purbakala yang tersimpan di Arsip Nasional Jakarta.

Garis Keturunan: Darah Bangsawan dari Kanoman Surabaya

Akar Keluarga Kromodjayan

Raden Mashudan lahir dari rahim bangsawan yang silsilahnya menyambung ke tiga generasi bupati pesisir utara Jawa Timur.

Ayahnya, Raden Aersadan (RAA Kromodjoyo Adinegoro III), adalah Bupati Mojokerto terlama dalam sejarah, memegang tampuk kekuasaan selama 30 tahun (1863–1894).

Sebelumnya, sang ayah sempat menjabat Bupati Lamongan (1863–1866). Ibundanya, Raden Ayu Ngaisah, adalah putri dari RAA Notodiningrat II, Bupati Malang periode 1839–1884.

Dari pihak ayah, garis keturunan ini dapat ditelusuri hingga ke Raden Glundung (Raden Tumenggung Kromodjoyodirono), Bupati Surabaya (1819–1825), yang menikah dengan keturunan Bupati Kanoman Surabaya (1752–1769).

Kakek dari pihak ayah, Raden Bagus Anom (RAA Kromodjoyo Adinegoro II), lebih dikenal masyarakat Surabaya dengan julukan “Kanjeng Genteng”, seorang tokoh religius yang menjabat sebagai Imam Besar Salat Jumat di Masjid Ampel Surabaya semasa memerintah (1831–1859).

Pendidikan dan Awal Karier

Berbeda dengan banyak bangsawan seusianya, Raden Mashudan menempuh pendidikan formal modern. Pada tahun 1880, beliau lulus dari Hogere Burgerschool (HBS) Surabaya.

Sekolah menengah atas Belanda yang saat itu hanya diakses oleh elite kolonial. Pendidikan ini kemudian membukanya jalan ke birokrasi pemerintahan.

Kariernya dimulai dari posisi paling rendah: juru tulis di Kantor Kabupaten Mojokerto. Justru dari posisi inilah bakatnya dalam pendataan dan dokumentasi mulai terasah.

Beliau kemudian menjabat Camat di Peterongan dan Kedungpring, lalu merangkap sebagai Wedana di Jombang sebelum akhirnya naik tahta menggantikan ayahnya yang wafat.

Kepemimpinan, Antara Meja Residen dan Reruntuhan Bata

Mengapa Disebut “Bupati Majapahit”?

Saat menjabat, Raden Mashudan tidak menghabiskan waktu di balik meja kerja semata. Beliau kerap keluar masuk kawasan Trowulan, bekas ibu kota Kerajaan Majapahit bersama sejumlah pegawai setia.

Misi mereka bukan perburuan harta karun, melainkan pendataan sistematis terhadap batu prasasti, arca, dan fragmen bangunan yang berserakan di ladang-ladang penduduk.

Kepedulian ini bukan semangat sesaat. Sejak masih menjadi juru tulis, beliau sudah mengumpulkan temuan purbakala di teras halaman kabupaten, memberi nomor inventaris, dan menyusun laporan tertang untuk dikirim ke Asisten Residen Jombang.

Sebab, Trowulan saat itu masih berada dalam wilayah administratif Jombang. Catatan tangan beliau yang rapi hingga kini masih tersimpan di Arsip Nasional Jakarta sebagai bukti dokumentasi paling awal tentang situs Trowulan.

Mendirikan Museum Purbakala Mojokerto

Pada tahun 1911, dengan izin pemerintah Hindia Belanda, Raden Mashudan membangun sebuah gedung di sisi timur kompleks Pemkab Mojokerto.

Tujuannya satu, menampung koleksi purbakala yang semakin bertambah jumlahnya. Dua tahun kemudian, tepatnya 1913, gedung tersebut diresmikan menjadi Museum Purbakala Mojokerto,  institusi pertama di Jawa Timur yang didedikasikan khusus untuk melestarikan peninggalan Majapahit.

Langkah ini dianggap revolusioner pada masanya. Di era ketika batu bata kuno kerap dianggap sebagai sumber material murah untuk bangunan rumah warga, seorang bupati justru membangun rumah khusus untuk menyimpannya.

OVM dan Candi Tikus, Dua Pilar Warisan yang Abadi

Lahirnya Oudheidkundige Vereeniging Majapahit (OVM)

Pensiun dari jabatan bupati pada 1916 tidak memadamkan semangat Raden Mashudan. Sebelas tahun kemudian, tepatnya 24 April 1924, beliau mendirikan Oudheidkundige Vereeniging Majapahit (OVM). Perkumpulan Kepurbakalaan Majapahit di Trowulan.

Organisasi ini didukung penuh oleh pemerintah Belanda dan berkolaborasi dengan arsitek kenamaan Henricus Maclaine Pont, lulusan Technische Hogeschool Delft (THD) Belanda.

Kantor OVM yang beralamat di Jalan Raya Trowulan tidak hanya menjadi laboratorium arkeologi, tetapi juga tempat tinggal Maclaine Pont bersama keluarganya.

Melalui penggalian, penelitian, dan dokumentasi, OVM berhasil menyibak lapisan demi lapisan misteri tentang keberadaan Istana Majapahit yang selama ratusan tahun terkubur di bawah tanah.

Penemuan Candi Tikus

Salah satu puncak prestasi OVM adalah penemuan Candi Tikus. Pada tahun 1914, Raden Mashudan menerima laporan dari warga Desa Dinuk, Trowulan, mengenai hama tikus yang bermunculan dari sebuah gundukan tanah.

Intuisi beliau sebagai pendata purbakala menyala. Beliau memerintahkan penggalian awal dan menemukan tanda-tanda struktur bangunan kuno.

Dengan izin resmi dari pemerintah kolonial, penggalian dilanjutkan secara bertahap. Pada 1916, seluruh bangunan candi telah terungkap.

Proses pemugaran berlangsung hingga 1923, dan bangunan itu kemudian dinamai Candi Tikus, nama yang hingga kini menjadi ikon pariwisata Kabupaten Mojokerto.

Penghargaan dan Pengakuan Internasional

Bintang Kehormatan dari Mahkota Belanda

Atas dedikasi tak tergoyahkan dalam bidang kepurbakalaan, Pemerintah Hindia Belanda menganugerahkan gelar kebangsawanan tertinggi kepada Raden Mashudan pada tahun 1925:

Ridder In de Orde van den Nederlandschen Leeuw (Ridder dalam Orde Singa Belanda)

Penghargaan ini jarang diberikan kepada pejabat pribumi, apalagi atas jasa di bidang budaya dan bukan politik atau militer.

Ini menandakan bahwa dunia internasional pada masa itu telah mengakui kontribusi fundamental beliau dalam melestarikan warisan peradaban Nusantara.

Pengakuan UNESCO

Situs Trowulan, yang menjadi fokus utama pelestarian Raden Mashudan, kini tercatat dalam daftar Tentative List UNESCO, daftar nominasi calon Warisan Dunia.

Dalam dokumen resmi UNESCO, nama R.A.A. Kromodjojo Adinegoro disebut secara eksplisit sebagai tokoh kunci yang memprakarsai ekskavasi Candi Tikus, melarang pengambilan batu bata dari situs cagar budaya, dan mendirikan Museum Mojokerto sebagai wadah konservasi.

Kehidupan Pribadi dan Keturunan

Raden Mashudan menikah dengan Raden Ayu Katarinah, putri RAA Notodiningrat III (Bupati Malang 1884–1898).

Dari perkawinan ini lahir sepuluh orang anak, sebagian besar melanjutkan tradisi keluarga dengan mengabdi pada pemerintahan kolonial maupun republik:

Nama Gelar / Jabatan

  • Raden Bagus Abdul Madjid RAA Kromoadinegoro – Bupati Mojokerto (1916–1932)
  • Raden Ayu Moerdiyati Menikah dengan RAA Panji Arya Suryowinoto I – Bupati Gresik (1917–1934)
  • Raden Bagus Yasin R. Ngabei Kromodjoyoadirono – Asisten Wedana Ngebel Ponorogo
  • Raden Bagus Mas Suwoso R. Ngabei Kromoadiprodjo – Wedana Besuki
  • Raden Bagus Rustamadji R. Ngabei Kromodjoyodipuro – Asisten Wedana Modo Lamongan
  • Raden Bagus Fayaqun R. Ngabei Kromodjoyoadiningrat – Wedana Nganjuk

Selain itu, Raden Mashudan juga menyisakan warisan non-fisik berupa Serat Sara Silah—dokumen silsilah Trah Keluarga Kromodjayan Kanoman yang mulai disusunnya sejak tanggal 1 Mulud, Jimawal, 1853 (23 November 1922).

Dokumen ini kemudian dikembangkan oleh putranya, Raden Bagus Yasin, dan menjadi pustaka tunggal bagi seluruh keturunan Kromodjayan hingga generasi kini.

Wafat dan Makam Peninggalan

Raden Adipati Arya Kromodjoyo Adinegoro IV menghembuskan napas terakhirnya pada Maret 1934. Tidak berapa lama berselang, pada Oktober 1934, sang istri Raden Ayu Katarinah menyusul ke rahmatullah.

Keduanya dimakamkan berdampingan di Pesarean Sentono Asri Kromodjayan, Desa Terusan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Makam tersebut hingga kini masih menjadi tujuan ziarah, tidak hanya oleh keluarga besar Trah Kromodjayan, tetapi juga oleh peziarah dari berbagai daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, hingga Situbondo, terutama menjelang bulan Ramadan.

Warisan Abadi, Dari Teras Kabupaten ke Panggung Dunia

Ketika Raden Mashudan mulai mengumpulkan batu bata dan arca di teras Kabupaten Mojokerto pada akhir abad ke-19, mungkin beliau tidak membayangkan bahwa langkah sederhana itu akan melahirkan sebuah institusi kelas dunia.

Museum yang didirikannya telah berevolusi menjadi Pusat Informasi Majapahit (Museum Trowulan), dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, dan menjadi rujukan utama para arkeolog, sejarawan, dan wisatawan mancanegara.

Lebih dari sekadar bangunan, beliau meninggalkan sebuah paradigma: bahwa pejabat pemerintahan bukan hanya pengelola administrasi, tetapi juga custodian budaya—penjaga memori kolektif bangsa.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang RAA Kromodjoyo Adinegoro IV

Siapa Raden Adipati Arya Kromodjoyo Adinegoro IV?

Beliau adalah Raden Mashudan, Bupati Mojokerto keenam yang menjabat 1894–1916, dikenal sebagai pelopor pelestarian situs purbakala Majapahit dan pendiri Museum Purbakala Mojokerto.

Apa hubungan RAA Kromodjoyo Adinegoro IV dengan Museum Trowulan?

Beliau adalah pendiri cikal bakal museum tersebut pada 1913, yang kemudian berkembang menjadi Museum Trowulan melalui organisasi OVM yang didirikannya pada 1924.

Kapan Candi Tikus ditemukan?

Proses penemuan dimulai 1914 berdasarkan laporan warga, penggalian utama selesai 1916, dan pemugaran rampung 1923.

Di mana makam RAA Kromodjoyo Adinegoro IV?

Di Pesarean Sentono Asri Kromodjayan, Desa Terusan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Apa gelar kehormatan yang diterima beliau?

Ridder In de Orde van den Nederlandschen Leeuw (1925) dari Pemerintah Hindia Belanda atas jasa pelestarian purbakala. (FAM)