Tanggamus

Varietas Sanggah Sembalun Panen Setelah 100 Hari

122
×

Varietas Sanggah Sembalun Panen Setelah 100 Hari

Sebarkan artikel ini
polres dan pemkab tanggamus panen bawang putih setelah 100 hari

Tanggamus, Lampung – Polres Tanggamus bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanggamus menggelar panen perdana bawang putih varietas Sanggah Sembalun di Pekon Datarajan, Kecamatan Ulubelu, pada Selasa (4/8/26). Dari lahan seluas 6.700 meter persegi atau sekitar 0,67 hektare, petani berhasil memanen bawang putih setelah memasuki usia tanam 100 Hari Setelah Tanam (HST).

Kegiatan panen raya yang merupakan bagian dari Gugus Tugas Polri Mendukung Ketahanan Pangan ini dihadiri Kapolres Tanggamus, AKBP Rahmad Sujatmiko, S.I.K., M.H., bersama Bupati Tanggamus Drs. H. Moh. Saleh Asnawi, M.A., M.H., Ketua DPRD Tanggamus Agus Setyo Utama S.T., M.M., unsur Forkopimda, kepala OPD, perwakilan Bulog, BPS, Pertamina Geothermal Energy (PGE), PT Gunung Tiga, Pupuk Indonesia, kelompok tani, serta masyarakat Pekon Datarajan.

Kapolres Tanggamus AKBP Rahmad Sujatmiko menjelaskan bahwa penanaman dilakukan pada 21 April 2026 bersama kelompok tani binaan. Ia menyatakan keberhasilan ini sebagai bukti nyata dukungan Polri terhadap program ketahanan pangan nasional.

“Hari ini kami melaksanakan panen perdana bawang putih bersama jajaran Forkopimda. Sekitar tiga bulan lalu, tepatnya 21 April 2026, kami melakukan penanaman perdana di lahan kurang lebih 7.000 meter persegi. Alhamdulillah hasilnya sangat baik. Budidaya bawang putih ini merupakan bentuk dukungan Polres Tanggamus bersama kelompok tani terhadap program ketahanan pangan pemerintah,” kata AKBP Rahmad Sujatmiko.

AKBP Rahmad Sujatmiko menambahkan, hasil budidaya di Ulubelu mendapat apresiasi dari tim Kementerian Pertanian dan kelompok tani asal Sembalun, Lombok Timur, yang datang langsung meninjau lokasi. Kualitas hasil panen dinilai mencapai grade A, B, dan C.

“Tim dari Kementerian Pertanian maupun kelompok tani dari Sembalun menilai budidaya bawang putih di Ulubelu sangat berhasil. Hasil panennya memiliki kualitas grade A, grade B, dan grade C. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan komoditas bawang putih di Kabupaten Tanggamus,” ujarnya.

Menurut Kapolres, hasil panen perdana tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan budidaya pada musim tanam berikutnya. “Ke depan kami akan melakukan evaluasi terhadap hasil panen ini sebagai bekal untuk penanaman berikutnya. Kami akan memperbaiki pengolahan lahan, memperkuat kolaborasi dengan stakeholder terkait, serta memberikan pelatihan kepada kelompok tani agar budidaya bawang putih di Ulubelu maupun wilayah lain di Tanggamus dapat terus berkembang,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Tanggamus mengapresiasi inisiasi Polres Tanggamus yang menggandeng kelompok tani dalam mengembangkan bawang putih di wilayah dataran tinggi Ulubelu. Menurutnya, keberhasilan panen perdana menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki potensi besar menjadi sentra bawang putih di Lampung.

“Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada Polres Tanggamus bersama kelompok tani. Kita melihat sendiri hasil panennya sangat baik. Ke depan pemerintah daerah telah menyiapkan beberapa hektare lahan untuk kembali ditanami bawang putih karena wilayah Ulubelu memiliki kondisi yang sangat cocok untuk komoditas ini,” ujar Bupati.

Ia menilai bawang putih memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan karena masa tanamnya relatif singkat, hanya sekitar tiga hingga empat bulan, sehingga dapat menjadi alternatif sumber pendapatan masyarakat selain kopi dan komoditas perkebunan lainnya.

“Kami akan terus mendukung para petani di Ulubelu untuk mengembangkan budidaya bawang putih. Program yang telah diinisiasi Polres Tanggamus ini akan kami dorong agar semakin luas dan mampu menjadi salah satu penopang kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.

Usai panen, bawang putih tersebut dikeringkan di lantai jemur di Pekon Datarajan dan akan disimpan di gudang penyimpanan di Pekon Ngarip, Kecamatan Ulubelu. Kegiatan juga diisi dengan edukasi budidaya, dialog bersama petani, serta peninjauan hasil panen. (*)